Setelah abad yang lalu, Alkitab terjemahan Klinkert dan Alkitab terjemahan Leydekker umumnya dipakai di kepulauan Indonesia. Sedangkan Alkitab terjemahan Shellabear umumnya dipakai di Tanah Melayu.
Karena bahasa kedua negara itu sesungguhnya satu, ada banyak orang yang menginginkan satu Alkitab yang dapat dipakai oleh keduanya. Maka pada tahun 1929 diadakan suatu rapat bersama antara Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaha Alkitab Inggris dan Luar Negeri. Sebagai hasil rapat itu, diangkatlah sebuah team penterjemah khusus.
Menuju Terjemahan Bersama
Wakil bangsa Melayu pada panitia tersebut
adalah Incek Mashohor bin Kulop Endut dari Perak. Dulu ia pernah
menolong Dr. W. G. Shellabear dalam membuat sebuah kamus bahasa Melayu.
Ia baru dibaptiskan sebagai orang Kristen pada tahun 1924; jadi, ia
dapat menolong kawan-kawan sekerjanya agar mengindari istilah-istilah
yang sulit bagi orang yang tidak dibesarkan di lingkungan gereja.
Pada tahun 1936 kedudukan Mashohor dalam team
penterjemah itu diganti oleh Abdul Ghani bin Tahir. Mungkin kemahiran
pengganti itu dalam pemakaian bahasa Melayu lebih unggul lagi daripada
yang dapat dicapai oleh Mashohor dulu.
Wakil bangsa Indonesia dalam proyek terjemahan bersama itu adalah A. W. Keilulu, seorang mahaguru di sebuah sekolah kependidikan di Ambon. Ia dianggap ahli sekali dalam bahasa Indonesia sebagaimana dipakai di daerah Nusa Tenggara.
Pemimpin team tersebut adalah Ds. Werner August Bode, utusan Injil dan putra utusan Injil. Bode
lahir pada tahun 1890 di India, tempat pelayanan orang tuanya. Setelah
menjadi tentara Jerman dalam Perang Dunia I, ia berkuliah di
sekolah-sekolah zending di negeri Jerman dan negeri Belanda. Di Minahasa
ia menjadi mahaguru di sebuah sekolah tinggi kependetaan.
Sesudah
ia diangkat sebagai penterjemah utama, W. A. Bode pindah ke Sukabumi di
Jawa Barat. Di situ ia dan kawan-kawan setugasnya bekerja terus sejak
tahun 1930. Pada tahun 1935, Kitab Perjanjian Baru sudah selesai.
Sementara diteliti dan diredaksikan, terjemahan itu keluar pada tahun
1938. Sementara itu, team terus menghasilkan kitab-kitab Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Mazmur. Lalu ... meletuslah Perang Dunia II.
Pada bulan Mei tahun 1940, Bode sebagai
warganegara Jerman dimasukkan ke dalam tahanan. Mula-mula ia ditempatkan
di pulau Seribu, kemudian di daerah Aceh. Ia masih rajin bekerja pada
terjemahannya, dan sempat menyelesaikan Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, dan Rut.
Menjelang akhir tahun 1941, tentara Jepang mulai
aksinya di daerah Lautan Teduh. Agar terhindar dari bahaya, para
tahanan berkebangsaan Jerman itu dikirim ke India. Tetapi pada bulan
Januari tahun 1942, dekat pulau Nias, kapal yang mereka tumpangi itu
dibom oleh pesawat terbang Jepang. Hanya ada 70 orang Jerman yang
selamat ketika kapal tenggelam, dan W. A. Bode tidak termasuk di
antaranya.
Setelah
sudah pulih kembali keadaan damai, dan setelah kemerdekaan Republik
Indonesua, Perjanjian Baru terjemahan Bode dkk. itu digabungkan dengan
Perjanjian Lama terjemahan Klinkert. Alkitab yang dua macam ini untuk pertama kali dicetak sebagai satu buku pada tahun 1958. Dan itulah Alkitab yang umumnya dikenal hingga kini sebagai "terjemahan lama."
Doa Bapa Kami dalam terjemahan W.A. Bode dk. (1935, 1938, 1948) berbunyi sebagai berikut:
"Ja Bapa kami jang disoerga,dipermoeliakanlah kiranya Namamoe.
Datanglah keradjaanmoe.
Djadilah kehendakmoe,
seperti disoerga, demikian djoega diatas boemi.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang setjoekoepnya.
Dan ampoenilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami,
seperti kami ini soedah mengampoeni orang
jang berkesalahan kepada kami.
Dan djanganlah membawa kami kepada pentjobaan,
melainkan lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Menuju Terjemahan Baru
Walaupun ada orang-orang dari semenanjung Melayu
yang turut mengerjakan terjemahan Bode dkk., namun versi itu tidak umum
diterima di sana. Juga, terjemahan tersebut tidak sempat diselesaikan,
karena terhambat oleh perang dan maut.
Jadi, pada tahun 1952 mulailah suatu usaha baru lagi untuk menghasilkan sebuah terjemahan yang tepat dan tak ketinggalan zaman. Proyek itu makan waktu yang luar biasa lamanya, karena sering terganggu oleh soal luar dan dalam. Pada permulaannya terjemahan itu diasuh oleh Lembaga Alkitab Belanda, lalu pada tahun 1959 dialihkan kepada Lembaga Alkitab Indonesia.
Banyak orang yang turut menyumbangkan tenaga dan
pikiran pada proyek besar itu. Mereka yang bekerja sepenuh waktu
(antara lain) adalah sebagai berikut:
Dr. J. L. Swellengrebel, ketua panitia 1952-1959
C.D. Grinjins, 1952-1970
P. S. Naipospos, 1952-1963
Dr. Chr. F. Barth, 1956-1963
Dr. J. L. Ch. Abineno, ketua panitia 1962-1970
Dr. Rd. Soedarno, wakil ketua panitia 1962-1970
Ds. O. E. Ch. Woewoengan, 1962-1970
J. P. Siborutorop, 1963-70
Dr. A. de Kuiper, 1964-70
Sebagaimana dapat diketahui dari bunyi nama-nama
mereka, ada orang Eropa dan orang Indonesia yang bekerja sama demi
Firman Allah dalam bahasa modern. Di antara anggota-anggota team
penterjemah dari Indonesia itu, ada orang Batak, orang Timor, orang
Jawa, dan orang Manado.
Dr. Swellengrebel, yang berjasa besar pada
masa permulaan proyek itu, lahir di Belanda pada tahun 1909. Mulai
tahun 1936 ia melayani di pulau Bali sebagai tenaga ahli Lembaga Alkitab Belanda.
Selama tiga tahun ia menjadi tahanan perang. Sejak pulang ke tanah
airnya, ia masih tetap memberi sumbangan besar demi Firman Allah di Asia
Tenggara: Pada tahun 1974 dan 1978 ia menerbitkan sebuah buku berupa dua jilid yang memuat sejarah terjemahan Alkitab di bumi Indonesia: In Leijdeckers Voetspoor.
Dr. Abineno, yang menggantikan Dr.
Swellengrebel sebagai ketua panitia penterjemah, lahir di Timor pada
tahun 1918. Ia cukup terkenal sebagai pengarang buku sebanyak hampir 20
buah, kebanyakan tentang penyelidikan Alkitab, theologia, kependetaan, dan hal-hal gerejani lainnya.
Kawan-kawan sekerja Dr.
Swellengrebel dan Dr. Abineno, baik orang Barat maupun orang Timur,
umumnya ahli bahasa dan/atau mahaguru penyelidikan Alkitab. Hasil karya mereka mulai diterbitkan secara berangsur-angsur pada tahun 1959, berbentuk beberapa kitab dalam ukuran saku. Perjanjian Baru menyusul pada tahun 1971, dan seluruh Alkitab pada tahun 1974.
Inilah Alkitab yang biasa disebut:
"terjemahan baru." (Anehnya, ada terjemahan yang lebih baru lagi
daripada "terjemahan baru." Dan tentu saja ada terjemahan yang lebih
lama lagi daripada "terjemahan lama"!)
Doa Bapa Kami dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (1971, 1974) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami jang disorga,dikuduskanlah namaMu,
datanglah KeradjaanMu,
djadilah kehendakMu
dibumi seperti sidorga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang secukupnja
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami djuga mengampuni orang jag bersalah kepada kami;
dan djangan membawa kami kedalam pentjobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Banyak Macam Alkitab
Tidak semua Kitab Suci adalah terbitan dari suatu lembaga Alkitab.
Firman Allah dalam bahasa-bahasa aslinya adalah milik umum. Siapa pun
yang sanggup menyalinkannya ke dalam bahasa lain, boleh saja menerbitkan
salinannya itu tanpa diganggu gugat.
Justru itulah yang telah dilakukan oleh seorang
Amerika bernama Kenneth N. Taylor. Hasil karyanya sesungguhnya lebih
baik jangan disifatkan sebagai sendiri, "Parafrasis berarti mengatakan
sesuatu dalam kata-kata yang lain daripada yang dipakai oleh
pengarangnya, yaitu suatu rumusan kembali dari pikiran pengarang itu,
dengan menggunakan kata-kata yang berbeda."
Perjanjian
Baru dalam parafrasis Dr. Kenneth N. Taylor itu telah disalin ke dalam
bahasa Indonesia, dengan judul Firman Allah yang Hidup. Versi itu
diterbitkan pada tahun 1976 oleh Penerbit Kalam Hidup. Penterjemahan
utama adalah Drs. Ganda Wargasetia, dengan pertolongan beberapa kawan
sekerjanya. Dalam 14 bulan pertama sejak keluarganya versi itu, sudah
terjual sebanyak 45.000 eksemplar.
Doa Bapa Kami dalam Firman Allah yang Hidup: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Sehari-hari (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami yang di surga,kami muliakan nama-Mu yang suci.
Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama
seperti di surga.
Berilah kami makanan untuk hari ini sebagaimana biasa,
dan ampunkanlah dosa kamu, seperti kami sudah mengampuni
mereka yang bersalah kepada kami.
Janganlah kami dibawa ke dalam cobaan, melainkan lepaskanlah
kami dari si Jahat."
Salah satu kesulitan yang sering dihadapi
dalam usaha terjemahan ialah, menemukan seseorang yang pandai, baik
dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, maupun dalam bahasa setempat. Untuk menolong para Yunani, Lembaga Alkitab
Amerika beberapa tahun yang lalu memutuskan untuk membuat suatu
terjemahan yang sangat sederhana. Untuk mengetuai proyek tersebut mereka
menunjuk Dr. Robert G. Bratcher, seorang sarjana Alkitab yang dulu menjadi utusan Injil Baptis dan putra utusan Injil Baptis di negeri Brasilia.
Tugas Dr. Bratcher ialah, menghasilkan suatu
terjemahan yang takkan menjebak seorang penterjemah yang hanya tahu
bahasa Inggris dan bahasa setempat saja. Segala sesuatu yang
membingungkan harus dihindari.
Di samping para penterjemah, juga
orang-orang yang baru belajar bahasa Inggris diharapkan sebagai pembaca
terjemahan itu. Rupanya tidak ada banyak orang dari kedua golongan itu
(yakni penterjemah, serta pembaca yang bahasa ibunya bukan bahasa
Inggris). Jadi, Lembaga Alkitab Amerika hanya membuat rencana untuk
mencetak seratus ribu eksemplar. Mungkin jumlah itu kita anggap sebagai
oplah besar. Tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah yang biasa untuk
cetakan buku penting di negeri Barat, seratus ribu itu agak sedikit.
Perjanjian Baru dalam terjemahan sederhana itu keluar pada tahun 1966. Heran, sebelum akhir tahun itu juga, Lembaga Alkitab
Amerika harus mencetak berjuta-juta eksemplar lagi! Jumlah peredaran itu
terus naik, sampai dalam tempo sepuluh tahun mencapai 50 juta, suatu
rekor dunia sepanjang sejarah penerbitan buku. Pada tahun 1976 keluarlah
seluruh Alkitab dalam terjemahan itu, dan terbitan ini pun sangat laris
di seluruh dunia. Hanya sembilan bulan setelah penerbitannya,
eksemplarnya yang kelima juta dipersembahkan kepada Presiden Jimmy
Carter dalam suatu upacara khusus di Gedung Putih.
Mengapa Good News Bible (yang juga disebut Today's
English Version) begitu populer? Pertama-tama, karena bahasanya mungkin
yang paling jelas dan paling sederhana yang pernah diterbitkan. Judulnya
pun menyolok mata pembeli. Banyak gambar kecil yang mirip dengan
karikatur, pasti menambah daya tarik dari versi itu. Gambar-gambar
tersebut adalah karya seorang seniwati Kristen dari negeri Swis, Nn.
Annie Valloton.
Tetapi alasan utama mengapa Good News Bible itu
digemari oleh pembeli dan pembaca di Indonesia dan di mana-mana ialah
karena isinya tak lain dan tak bukan adalah Firman Allah. Sama seperti
dahulu kala dan sepanjang abad, sekali lagi terbukti bahwa tidak ada
buku lain yang lebih menarik, atau yang lebih penting untuk dibaca oleh
umat manusia.
Good
News Bible itu masih tetap dipakai menurut maksud tujuannya yang asli,
yaitu: sebagai alat penolong para penterjemah. Seorang pengalih bahasa
dengan nama Alkitab Elkanah T. Suwito telah memanfaatkannya di negara
tetangga kita, dalam menghasilkan Perjanjian Baharu: Berita Baik Untuk
Manusia Moden. Versi itu diterbitkan pada tahun 1976 oleh Lembaga Alkitab Singapura, Malaysia, dan Brunai. Gambar-gambar Annie Vallotton dipakai lagi di dalamnya.
Doa Bapa Kami dalam Perjanjian Baharu: Berita Baik Untuk Manusia Moden (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Ya Bapa kami yang di syurga,Hendaklah manusia menghormati engkau.
Binalah Pemerintahanmu di bumi.
Hendaklah manusia taat kepadamu
sebagaimana engkau ditaati di syurga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang seperlunya.
Ampunilah kesalahan kami,
seperti kami mengampuni orang yang bersalah terhadap kami.
Janganlah membiarkan kami digoda Iblis,
tetapi selamatkanlah kami daripada kuasanya."
Di Indonesia juga, Good News Bible telah dipakai sebagai titik tolak dari sebuah
terjemahan yang sederhana. Pada awal September 1977, terbitlah Kabar
Baik Untuk Masa Kini: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia
Sehari-hari--sekali lagi, lengkap dengan illustrasi hasil karya
Valloton.
Versi baru itu laris sekali: Menjelang akhir
tahun 1977, cetakan pertama dan kedua, yang berjumlah 75.00 eksemplar,
hampir habis. Sudah ada rencana untuk cetakan ketiga yang terdiri dari
200.000 eksemplar dan yang memuat agak banyak ralat dan revisi. (Dengan
pertolongan khusus dari LAI, semua kutipan dari Kabar Baik Untuk Masa
Kini yang dimuat dalam buku ini ialah dari edisi yang telah diperbaiki
itu.)
Sebuah team penterjemah terus mengerjakan
Perjanjian Lama dalam versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) itu.
Suatu keistimewaannya ialah, team itu terdiri seratus persen dari
wanita! Mereka itu adalah Ibu Mia Sigar, seorang istri pendeta di
Bandung dan pemimpin kaum Wanita Baptis seAsia;Ibu A. Susilaradeya,
seorang pengarang dari Gereja Protestan yang dengan suaminya melayani di
Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta; dan Sr. Emmanuella Gunanto W. Th.,
seorang rohaniwati Katolik yang menjadi ahli publisistik dan
pendidikan. Baik terjemahan BIS itu maupun "terjemahan baru" (LAI 1974)
diperbolehkan untuk umat Katolik, di samping untuk orang-orang Kristen
lainnya.
Doa Bapa Kami dalam Kabar Baik Untuk Masa Kini: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (1977) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami di surga :Engkaulah Allah yang Esa.
Semoga engkau disembah dan dihormati.
Engkaulah Raja kami.
Semoga engkau memerintahkan di bumi
dan kehendakmu ditaati seperti di surga.
Berilah pada hari ini makanan yang kami perlukan.
Ampunilah kami dari kesalahan kami,
seperti kami sudah mengampuni orang
yang bersalah kepada kami.
Janganlah membiarkan kami kehilangan percaya pada waktu kami dicobai
tetapi lepaskanlah kami dari kuasa si Jahat.'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar