INI HANYALAH SEBUAH LELUCON BELAKA !!!!!!
ENGGAK PERNAH BERDOA
Ada seorang nelayan yang sepanjang hidup nya
enggak pernah berdoa.suatu hari dia pergi ke laut buat cari ikan.udah sampe siang hari dia enggak
dapat ikan banyak, sedangakan dia sendiri enggak..........terus dia inget kalo temen-temenya itu sering berdoa.akhirnya dia berdoa ngikutin jejak teman-temannya, dan diabilang"ya Tuhan,tolong berikan aku ikan yang banyak,biar nanti aku jual buat beli makan ya,Tuhan........."
Ternyata doanya terkabul, dan dia dapet buuuaannyaaakk ikan.Dengan perasaan senang dia bilang,"Hahahahahaha.....Tuhan bungul........mo ngasih aku ikan yang banyak padahal ak enggak pernah berdoa................
Sampai di rumahnya di bingung dan heran ngeliat rumahnya yang udah habis kebakar.sambil marah dia buang ikan yang baru dapet ke lau dan dia bilang ke Tuhan,"hei Tuhan masalah yang di laut, dilaut aja jangan di bawa ke darat donk.........!!!!!!!!!
PESAN:Makanya,kalo jadi orang jangan suka meremehkan Tuhan
Selasa, 02 Oktober 2012
Sabtu, 01 September 2012
Alkitab: Untuk Masa Kini
dipermoeliakanlah kiranya Namamoe.
Datanglah keradjaanmoe.
Djadilah kehendakmoe,
seperti disoerga, demikian djoega diatas boemi.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang setjoekoepnya.
Dan ampoenilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami,
seperti kami ini soedah mengampoeni orang
jang berkesalahan kepada kami.
Dan djanganlah membawa kami kepada pentjobaan,
melainkan lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
dikuduskanlah namaMu,
datanglah KeradjaanMu,
djadilah kehendakMu
dibumi seperti sidorga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang secukupnja
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami djuga mengampuni orang jag bersalah kepada kami;
dan djangan membawa kami kedalam pentjobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
kami muliakan nama-Mu yang suci.
Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama
seperti di surga.
Berilah kami makanan untuk hari ini sebagaimana biasa,
dan ampunkanlah dosa kamu, seperti kami sudah mengampuni
mereka yang bersalah kepada kami.
Janganlah kami dibawa ke dalam cobaan, melainkan lepaskanlah
kami dari si Jahat."
Hendaklah manusia menghormati engkau.
Binalah Pemerintahanmu di bumi.
Hendaklah manusia taat kepadamu
sebagaimana engkau ditaati di syurga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang seperlunya.
Ampunilah kesalahan kami,
seperti kami mengampuni orang yang bersalah terhadap kami.
Janganlah membiarkan kami digoda Iblis,
tetapi selamatkanlah kami daripada kuasanya."
Engkaulah Allah yang Esa.
Semoga engkau disembah dan dihormati.
Engkaulah Raja kami.
Semoga engkau memerintahkan di bumi
dan kehendakmu ditaati seperti di surga.
Berilah pada hari ini makanan yang kami perlukan.
Ampunilah kami dari kesalahan kami,
seperti kami sudah mengampuni orang
yang bersalah kepada kami.
Janganlah membiarkan kami kehilangan percaya pada waktu kami dicobai
tetapi lepaskanlah kami dari kuasa si Jahat.'
Setelah abad yang lalu, Alkitab terjemahan Klinkert dan Alkitab terjemahan Leydekker umumnya dipakai di kepulauan Indonesia. Sedangkan Alkitab terjemahan Shellabear umumnya dipakai di Tanah Melayu.
Karena bahasa kedua negara itu sesungguhnya satu, ada banyak orang yang menginginkan satu Alkitab yang dapat dipakai oleh keduanya. Maka pada tahun 1929 diadakan suatu rapat bersama antara Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaha Alkitab Inggris dan Luar Negeri. Sebagai hasil rapat itu, diangkatlah sebuah team penterjemah khusus.
Menuju Terjemahan Bersama
Wakil bangsa Melayu pada panitia tersebut
adalah Incek Mashohor bin Kulop Endut dari Perak. Dulu ia pernah
menolong Dr. W. G. Shellabear dalam membuat sebuah kamus bahasa Melayu.
Ia baru dibaptiskan sebagai orang Kristen pada tahun 1924; jadi, ia
dapat menolong kawan-kawan sekerjanya agar mengindari istilah-istilah
yang sulit bagi orang yang tidak dibesarkan di lingkungan gereja.
Pada tahun 1936 kedudukan Mashohor dalam team
penterjemah itu diganti oleh Abdul Ghani bin Tahir. Mungkin kemahiran
pengganti itu dalam pemakaian bahasa Melayu lebih unggul lagi daripada
yang dapat dicapai oleh Mashohor dulu.
Wakil bangsa Indonesia dalam proyek terjemahan bersama itu adalah A. W. Keilulu, seorang mahaguru di sebuah sekolah kependidikan di Ambon. Ia dianggap ahli sekali dalam bahasa Indonesia sebagaimana dipakai di daerah Nusa Tenggara.
Pemimpin team tersebut adalah Ds. Werner August Bode, utusan Injil dan putra utusan Injil. Bode
lahir pada tahun 1890 di India, tempat pelayanan orang tuanya. Setelah
menjadi tentara Jerman dalam Perang Dunia I, ia berkuliah di
sekolah-sekolah zending di negeri Jerman dan negeri Belanda. Di Minahasa
ia menjadi mahaguru di sebuah sekolah tinggi kependetaan.
Sesudah
ia diangkat sebagai penterjemah utama, W. A. Bode pindah ke Sukabumi di
Jawa Barat. Di situ ia dan kawan-kawan setugasnya bekerja terus sejak
tahun 1930. Pada tahun 1935, Kitab Perjanjian Baru sudah selesai.
Sementara diteliti dan diredaksikan, terjemahan itu keluar pada tahun
1938. Sementara itu, team terus menghasilkan kitab-kitab Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Mazmur. Lalu ... meletuslah Perang Dunia II.
Pada bulan Mei tahun 1940, Bode sebagai
warganegara Jerman dimasukkan ke dalam tahanan. Mula-mula ia ditempatkan
di pulau Seribu, kemudian di daerah Aceh. Ia masih rajin bekerja pada
terjemahannya, dan sempat menyelesaikan Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, dan Rut.
Menjelang akhir tahun 1941, tentara Jepang mulai
aksinya di daerah Lautan Teduh. Agar terhindar dari bahaya, para
tahanan berkebangsaan Jerman itu dikirim ke India. Tetapi pada bulan
Januari tahun 1942, dekat pulau Nias, kapal yang mereka tumpangi itu
dibom oleh pesawat terbang Jepang. Hanya ada 70 orang Jerman yang
selamat ketika kapal tenggelam, dan W. A. Bode tidak termasuk di
antaranya.
Setelah
sudah pulih kembali keadaan damai, dan setelah kemerdekaan Republik
Indonesua, Perjanjian Baru terjemahan Bode dkk. itu digabungkan dengan
Perjanjian Lama terjemahan Klinkert. Alkitab yang dua macam ini untuk pertama kali dicetak sebagai satu buku pada tahun 1958. Dan itulah Alkitab yang umumnya dikenal hingga kini sebagai "terjemahan lama."
Doa Bapa Kami dalam terjemahan W.A. Bode dk. (1935, 1938, 1948) berbunyi sebagai berikut:
"Ja Bapa kami jang disoerga,dipermoeliakanlah kiranya Namamoe.
Datanglah keradjaanmoe.
Djadilah kehendakmoe,
seperti disoerga, demikian djoega diatas boemi.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang setjoekoepnya.
Dan ampoenilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami,
seperti kami ini soedah mengampoeni orang
jang berkesalahan kepada kami.
Dan djanganlah membawa kami kepada pentjobaan,
melainkan lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Menuju Terjemahan Baru
Walaupun ada orang-orang dari semenanjung Melayu
yang turut mengerjakan terjemahan Bode dkk., namun versi itu tidak umum
diterima di sana. Juga, terjemahan tersebut tidak sempat diselesaikan,
karena terhambat oleh perang dan maut.
Jadi, pada tahun 1952 mulailah suatu usaha baru lagi untuk menghasilkan sebuah terjemahan yang tepat dan tak ketinggalan zaman. Proyek itu makan waktu yang luar biasa lamanya, karena sering terganggu oleh soal luar dan dalam. Pada permulaannya terjemahan itu diasuh oleh Lembaga Alkitab Belanda, lalu pada tahun 1959 dialihkan kepada Lembaga Alkitab Indonesia.
Banyak orang yang turut menyumbangkan tenaga dan
pikiran pada proyek besar itu. Mereka yang bekerja sepenuh waktu
(antara lain) adalah sebagai berikut:
Dr. J. L. Swellengrebel, ketua panitia 1952-1959
C.D. Grinjins, 1952-1970
P. S. Naipospos, 1952-1963
Dr. Chr. F. Barth, 1956-1963
Dr. J. L. Ch. Abineno, ketua panitia 1962-1970
Dr. Rd. Soedarno, wakil ketua panitia 1962-1970
Ds. O. E. Ch. Woewoengan, 1962-1970
J. P. Siborutorop, 1963-70
Dr. A. de Kuiper, 1964-70
Sebagaimana dapat diketahui dari bunyi nama-nama
mereka, ada orang Eropa dan orang Indonesia yang bekerja sama demi
Firman Allah dalam bahasa modern. Di antara anggota-anggota team
penterjemah dari Indonesia itu, ada orang Batak, orang Timor, orang
Jawa, dan orang Manado.
Dr. Swellengrebel, yang berjasa besar pada
masa permulaan proyek itu, lahir di Belanda pada tahun 1909. Mulai
tahun 1936 ia melayani di pulau Bali sebagai tenaga ahli Lembaga Alkitab Belanda.
Selama tiga tahun ia menjadi tahanan perang. Sejak pulang ke tanah
airnya, ia masih tetap memberi sumbangan besar demi Firman Allah di Asia
Tenggara: Pada tahun 1974 dan 1978 ia menerbitkan sebuah buku berupa dua jilid yang memuat sejarah terjemahan Alkitab di bumi Indonesia: In Leijdeckers Voetspoor.
Dr. Abineno, yang menggantikan Dr.
Swellengrebel sebagai ketua panitia penterjemah, lahir di Timor pada
tahun 1918. Ia cukup terkenal sebagai pengarang buku sebanyak hampir 20
buah, kebanyakan tentang penyelidikan Alkitab, theologia, kependetaan, dan hal-hal gerejani lainnya.
Kawan-kawan sekerja Dr.
Swellengrebel dan Dr. Abineno, baik orang Barat maupun orang Timur,
umumnya ahli bahasa dan/atau mahaguru penyelidikan Alkitab. Hasil karya mereka mulai diterbitkan secara berangsur-angsur pada tahun 1959, berbentuk beberapa kitab dalam ukuran saku. Perjanjian Baru menyusul pada tahun 1971, dan seluruh Alkitab pada tahun 1974.
Inilah Alkitab yang biasa disebut:
"terjemahan baru." (Anehnya, ada terjemahan yang lebih baru lagi
daripada "terjemahan baru." Dan tentu saja ada terjemahan yang lebih
lama lagi daripada "terjemahan lama"!)
Doa Bapa Kami dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (1971, 1974) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami jang disorga,dikuduskanlah namaMu,
datanglah KeradjaanMu,
djadilah kehendakMu
dibumi seperti sidorga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang secukupnja
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami djuga mengampuni orang jag bersalah kepada kami;
dan djangan membawa kami kedalam pentjobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Banyak Macam Alkitab
Tidak semua Kitab Suci adalah terbitan dari suatu lembaga Alkitab.
Firman Allah dalam bahasa-bahasa aslinya adalah milik umum. Siapa pun
yang sanggup menyalinkannya ke dalam bahasa lain, boleh saja menerbitkan
salinannya itu tanpa diganggu gugat.
Justru itulah yang telah dilakukan oleh seorang
Amerika bernama Kenneth N. Taylor. Hasil karyanya sesungguhnya lebih
baik jangan disifatkan sebagai sendiri, "Parafrasis berarti mengatakan
sesuatu dalam kata-kata yang lain daripada yang dipakai oleh
pengarangnya, yaitu suatu rumusan kembali dari pikiran pengarang itu,
dengan menggunakan kata-kata yang berbeda."
Perjanjian
Baru dalam parafrasis Dr. Kenneth N. Taylor itu telah disalin ke dalam
bahasa Indonesia, dengan judul Firman Allah yang Hidup. Versi itu
diterbitkan pada tahun 1976 oleh Penerbit Kalam Hidup. Penterjemahan
utama adalah Drs. Ganda Wargasetia, dengan pertolongan beberapa kawan
sekerjanya. Dalam 14 bulan pertama sejak keluarganya versi itu, sudah
terjual sebanyak 45.000 eksemplar.
Doa Bapa Kami dalam Firman Allah yang Hidup: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Sehari-hari (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami yang di surga,kami muliakan nama-Mu yang suci.
Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama
seperti di surga.
Berilah kami makanan untuk hari ini sebagaimana biasa,
dan ampunkanlah dosa kamu, seperti kami sudah mengampuni
mereka yang bersalah kepada kami.
Janganlah kami dibawa ke dalam cobaan, melainkan lepaskanlah
kami dari si Jahat."
Salah satu kesulitan yang sering dihadapi
dalam usaha terjemahan ialah, menemukan seseorang yang pandai, baik
dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, maupun dalam bahasa setempat. Untuk menolong para Yunani, Lembaga Alkitab
Amerika beberapa tahun yang lalu memutuskan untuk membuat suatu
terjemahan yang sangat sederhana. Untuk mengetuai proyek tersebut mereka
menunjuk Dr. Robert G. Bratcher, seorang sarjana Alkitab yang dulu menjadi utusan Injil Baptis dan putra utusan Injil Baptis di negeri Brasilia.
Tugas Dr. Bratcher ialah, menghasilkan suatu
terjemahan yang takkan menjebak seorang penterjemah yang hanya tahu
bahasa Inggris dan bahasa setempat saja. Segala sesuatu yang
membingungkan harus dihindari.
Di samping para penterjemah, juga
orang-orang yang baru belajar bahasa Inggris diharapkan sebagai pembaca
terjemahan itu. Rupanya tidak ada banyak orang dari kedua golongan itu
(yakni penterjemah, serta pembaca yang bahasa ibunya bukan bahasa
Inggris). Jadi, Lembaga Alkitab Amerika hanya membuat rencana untuk
mencetak seratus ribu eksemplar. Mungkin jumlah itu kita anggap sebagai
oplah besar. Tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah yang biasa untuk
cetakan buku penting di negeri Barat, seratus ribu itu agak sedikit.
Perjanjian Baru dalam terjemahan sederhana itu keluar pada tahun 1966. Heran, sebelum akhir tahun itu juga, Lembaga Alkitab
Amerika harus mencetak berjuta-juta eksemplar lagi! Jumlah peredaran itu
terus naik, sampai dalam tempo sepuluh tahun mencapai 50 juta, suatu
rekor dunia sepanjang sejarah penerbitan buku. Pada tahun 1976 keluarlah
seluruh Alkitab dalam terjemahan itu, dan terbitan ini pun sangat laris
di seluruh dunia. Hanya sembilan bulan setelah penerbitannya,
eksemplarnya yang kelima juta dipersembahkan kepada Presiden Jimmy
Carter dalam suatu upacara khusus di Gedung Putih.
Mengapa Good News Bible (yang juga disebut Today's
English Version) begitu populer? Pertama-tama, karena bahasanya mungkin
yang paling jelas dan paling sederhana yang pernah diterbitkan. Judulnya
pun menyolok mata pembeli. Banyak gambar kecil yang mirip dengan
karikatur, pasti menambah daya tarik dari versi itu. Gambar-gambar
tersebut adalah karya seorang seniwati Kristen dari negeri Swis, Nn.
Annie Valloton.
Tetapi alasan utama mengapa Good News Bible itu
digemari oleh pembeli dan pembaca di Indonesia dan di mana-mana ialah
karena isinya tak lain dan tak bukan adalah Firman Allah. Sama seperti
dahulu kala dan sepanjang abad, sekali lagi terbukti bahwa tidak ada
buku lain yang lebih menarik, atau yang lebih penting untuk dibaca oleh
umat manusia.
Good
News Bible itu masih tetap dipakai menurut maksud tujuannya yang asli,
yaitu: sebagai alat penolong para penterjemah. Seorang pengalih bahasa
dengan nama Alkitab Elkanah T. Suwito telah memanfaatkannya di negara
tetangga kita, dalam menghasilkan Perjanjian Baharu: Berita Baik Untuk
Manusia Moden. Versi itu diterbitkan pada tahun 1976 oleh Lembaga Alkitab Singapura, Malaysia, dan Brunai. Gambar-gambar Annie Vallotton dipakai lagi di dalamnya.
Doa Bapa Kami dalam Perjanjian Baharu: Berita Baik Untuk Manusia Moden (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Ya Bapa kami yang di syurga,Hendaklah manusia menghormati engkau.
Binalah Pemerintahanmu di bumi.
Hendaklah manusia taat kepadamu
sebagaimana engkau ditaati di syurga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang seperlunya.
Ampunilah kesalahan kami,
seperti kami mengampuni orang yang bersalah terhadap kami.
Janganlah membiarkan kami digoda Iblis,
tetapi selamatkanlah kami daripada kuasanya."
Di Indonesia juga, Good News Bible telah dipakai sebagai titik tolak dari sebuah
terjemahan yang sederhana. Pada awal September 1977, terbitlah Kabar
Baik Untuk Masa Kini: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia
Sehari-hari--sekali lagi, lengkap dengan illustrasi hasil karya
Valloton.
Versi baru itu laris sekali: Menjelang akhir
tahun 1977, cetakan pertama dan kedua, yang berjumlah 75.00 eksemplar,
hampir habis. Sudah ada rencana untuk cetakan ketiga yang terdiri dari
200.000 eksemplar dan yang memuat agak banyak ralat dan revisi. (Dengan
pertolongan khusus dari LAI, semua kutipan dari Kabar Baik Untuk Masa
Kini yang dimuat dalam buku ini ialah dari edisi yang telah diperbaiki
itu.)
Sebuah team penterjemah terus mengerjakan
Perjanjian Lama dalam versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) itu.
Suatu keistimewaannya ialah, team itu terdiri seratus persen dari
wanita! Mereka itu adalah Ibu Mia Sigar, seorang istri pendeta di
Bandung dan pemimpin kaum Wanita Baptis seAsia;Ibu A. Susilaradeya,
seorang pengarang dari Gereja Protestan yang dengan suaminya melayani di
Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta; dan Sr. Emmanuella Gunanto W. Th.,
seorang rohaniwati Katolik yang menjadi ahli publisistik dan
pendidikan. Baik terjemahan BIS itu maupun "terjemahan baru" (LAI 1974)
diperbolehkan untuk umat Katolik, di samping untuk orang-orang Kristen
lainnya.
Doa Bapa Kami dalam Kabar Baik Untuk Masa Kini: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (1977) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami di surga :Engkaulah Allah yang Esa.
Semoga engkau disembah dan dihormati.
Engkaulah Raja kami.
Semoga engkau memerintahkan di bumi
dan kehendakmu ditaati seperti di surga.
Berilah pada hari ini makanan yang kami perlukan.
Ampunilah kami dari kesalahan kami,
seperti kami sudah mengampuni orang
yang bersalah kepada kami.
Janganlah membiarkan kami kehilangan percaya pada waktu kami dicobai
tetapi lepaskanlah kami dari kuasa si Jahat.'
Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.
Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa.
Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak
salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan
Alkitab itu sangat langka dan sangat mahal harganya.
Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat
bahwa jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti
akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka),
lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja
oleh para rohaniawan.
Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis
dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya,
pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.
Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus.
Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada
hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku
lengkap yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan
Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh.
Kemudian timbul Reformasi Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan
gereja itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah
atas keadaan rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran
Alkitab yang diberikan oleh orang lain; ia harus dapat mempunyai Alkitab
sendiri, serta harus dapat mengerti isinya.
Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab harus
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan
orang. Dan justru itulah yang berlangsung di seluruh dunia, mulai pada
abad yang ke-16.
Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk
kebanyakan orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di
sini: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke kepulauan Indonesia pada
abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang pada abad yang
ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka bawa itu tertulis dalam
bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara.
Ada juga halangan khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan
membaca Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau
itu berbicara dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut
pergi berlayar di Nusantara, belum tentu ia dapat bercakap-cakap dengan
orang-orang di pulau tempat tujuannya.
Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau putra-putri
Nusantara pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa
perniagaan itu ialah bahasa Portugis; tetapi yang lebih umum lagi ialah,
bahasa Melayu (yang sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa
Indonesia).
Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di negeri Portugis sendiri, melainkan di Nusantara!
Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa
dari Portugis ke kota Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih
berumur belasan tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus
Kristus sebagai Juru Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda,
mulailah dia menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa
ibunya. Kemudian, tatkala ia pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat
menyelesaikan terjemahannya itu. Ia juga menerjemahkan sebagian besar
dari Kitab Perjanjian Lama.
Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari seluruh
Nusantara oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin
sedikit orang yang menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa
perdagangan antar pulau. Dan Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab
yang bungkam untuk kebanyakan orang di kepalauan Indonesia.
Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya
diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu bukannya para pendeta dan
penginjil, melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang
ke-17, seorang pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan
oleh suku Aceh yang pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama
ditahan di Sumatera Utara, orang Belanda itu sempat belajar bahasa
Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 1605 ia menerbitkan
beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa
Melayu.
Sementara itu, seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar
dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab
perlu dibaca oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan
sekerjanya sampai mereka rela membayar semua ongkos penerbitan untuk
proyek terjemahannya itu. Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai
mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Melayu.
Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya itu dicetak.
Dalam bahasa Melayu terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) berbunyi sebagai berikut:
"Bappa kita, jang adda de surga:
Namma mou jadi bersakti.
Radjat-mu mendatang
kandhatimu menjadi
de bumi seperti de surga.
Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila.
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,
seperti kita ber-ampun
akan siapa ber-sala kepada kita.
D'jang-an hentar kita kepada tjobahan,
tetapi lepasken kita dari jang d'jakat."
Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat diterjemahkan oleh A. C.
Ruyl, pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya
itu sangat jelek. Misalnya, ia belum mengerti perbedaan antara "kita"
dengan "kami."
Kemudian, pada pertengahan abad yang ke-17, ada seorang pendeta Belanda
bernama Daniel Brouwerius yang mulai insaf bahwa Alkitab mmasih
merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri
Nusantara. Ia pindah ke kepulauan Indonesia dan berhasil menerjemahkan
seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu.
Dalam terjemahan Daniel Brouwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, Doa Bapa Kami berbunyi sebagai berikut:
"Bappa cami, jang adda de Surga,
Namma-mou jaddi bersacti.
Radjat-mou datang.
Candati-mou jaddi
bagitou de boumi bagaimana de surga.
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami.
Lagi ampon doossa cami,
bagaimana cami ampon
capada orang jang salla pada cami.
Lagi jangan antarrken cami de dalam tsjobahan
hanja lepasken cami derri jang djahat."
Memang Pdt. Brouwerius sudah dapat membedakan "kita" dan "kami." Namun
masih banyak kesalahan dalam Perjanjian Baru bahasa Melayu yang
diterjemahkannya. Apalagi, seluruh Perjanjian Lama masih tetap merupakan
sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara.
Tujuh tahun setelah Kitab Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu
diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya?
Dr. Melchior Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga
seorang dokter. Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa
Timur ke Jakarta, dan tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya.
Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah dalam bahasa Melayu.
Jadi, pada tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu
terjemahan seluruh Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami di seluruh
Nusantara.
Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan
seluruh Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai
mengalihbahasakan Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak sempat
menyelesaikan tugas yang mulia itu: Ia meninggal pada tahun 1701,
setelah mengerjakan terjemahannya sampai dengan Efesus 6:6.
Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior
Leydekker di bawah ini telah disusun kembali menurut ejaan yang
disempurnakan dan menurut tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian
lebih jelaslah persamaannya dengan ayat-ayat yang sama itu dalam
terjemahan biasa bahasa Indonesia:
"Bapa kami yang di sorga,
namaMu dipersucilah kiranya.
KerajaanMu datanglah.
KehendakMu jadilah,
seperti di dalam sorga, demikianlah di atas bumi.
Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini.
Dan ampunilah pada kami segala salah kami,
seperti lagi kami ini mengampuni
pada orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami kepada percobaan,
hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat."
Salah seorang rekan Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan
tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang
lengkap dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah
kitab yang bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa sampai terjadi
demikian?
Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran
dan kependetaan di Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak
laki-laki dalam keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki
itu lahir pada tahun 1965 dan diberi nama Francois Valentyn.
Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang pandai, karena ia baru mencapai umur
20 tahun ketika ia diizinkan meninggalkan kuliah teologinya serta pergi
ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya ia juga cepat mahir
dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup
berkhotbah dalam bahasa setempat setelah belajar hanya tiga bulan
lamanya.
Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan
menginap di tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta
tua membawa serta sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah ini
dulu ditulis oleh seorang pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang
lalu. Kemudian sang janda memberikan naskah ini kepadaku.
Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di
rumah pastori di Ambon. Maka Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt.
Francois Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah
terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu!
Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan
kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di
tempat pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu adalah seorang
janda kaya. Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke
tanah airnya pada tahun 1695. Naskah kuno itu pun dibawa ke Belanda.
Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior
Leydekker almarhum (dengan bantuan salah seorang rekannya) telah
berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu.
Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia
berkeinginan supaya dia saja yang dihormati (dan bukan orang-orang yang
sudah meninggal) sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan
seluruh Firman Allah dalam bahasa Nusantara?
Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai
penerjemah naskah kuno seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja
ada di dalam tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh
lebih modern, bahkan jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker.
Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di Belanda maupun
kepulauan Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan
Valentyn, tetapi ada juga orang-orang yang lebih setuju dengan
terjemahan Leydekker. Akibatnya, kedua terjemahan itu tidak jadi
diterbitkan. Dan sekali lagi, selama berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih
tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri
Nusantara.
Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn"
itu diselidiki dan dinyatakan sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula,
terjemahan itu dinilai sangat jelek.
Akan tetapi sementara perselisihan pendapat itu masih berlangsung, sudah
lewat juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa
terjemahan Leydekker tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka
pada tahun 1723 sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah
terjemahannya itu. Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang
baru.
Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu
dua kali disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan
sekali lagi dalam huruf Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke
Belanda dalam dua kapal yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan
bahwa walau satu naskah jadi hilang di dasar laut, namun naskah yang
satunya lagi itu masih akan tiba dengan selamat. Salah seorang
penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk mengawasi proyek
penerbitan yang besar itu.
Kitab Perjanjian Baru terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu
Alkitab lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka
akhirnya juga Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara!
Keluaran 6 : 6 = (6-5)
Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan
membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari
perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan
dengan hukuman-hukuman yang berat.
Langganan:
Komentar (Atom)

