Selasa, 02 Oktober 2012

INI HANYALAH SEBUAH LELUCON BELAKA !!!!!!



                                           ENGGAK PERNAH BERDOA

Ada seorang nelayan yang sepanjang hidup nya
enggak pernah berdoa.suatu hari dia pergi ke laut buat cari ikan.udah sampe siang hari dia enggak
dapat ikan banyak, sedangakan dia sendiri enggak..........terus dia inget kalo temen-temenya itu sering berdoa.akhirnya dia berdoa ngikutin jejak teman-temannya, dan diabilang"ya Tuhan,tolong berikan aku ikan yang banyak,biar nanti aku jual buat beli makan ya,Tuhan........."
Ternyata doanya terkabul, dan dia dapet buuuaannyaaakk ikan.Dengan perasaan senang dia bilang,"Hahahahahaha.....Tuhan bungul........mo ngasih aku ikan yang banyak padahal ak enggak pernah berdoa................
 Sampai di rumahnya di bingung dan heran ngeliat rumahnya yang udah habis kebakar.sambil marah dia buang ikan yang baru dapet ke lau dan dia bilang ke Tuhan,"hei Tuhan masalah yang di laut, dilaut aja jangan di bawa ke darat donk.........!!!!!!!!!

PESAN:Makanya,kalo jadi orang jangan suka meremehkan Tuhan

Sabtu, 01 September 2012

Alkitab: Untuk Masa Kini

Setelah abad yang lalu, Alkitab terjemahan Klinkert dan Alkitab terjemahan Leydekker umumnya dipakai di kepulauan Indonesia. Sedangkan Alkitab terjemahan Shellabear umumnya dipakai di Tanah Melayu.
Karena bahasa kedua negara itu sesungguhnya satu, ada banyak orang yang menginginkan satu Alkitab yang dapat dipakai oleh keduanya. Maka pada tahun 1929 diadakan suatu rapat bersama antara Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaha Alkitab Inggris dan Luar Negeri. Sebagai hasil rapat itu, diangkatlah sebuah team penterjemah khusus.
Menuju Terjemahan Bersama
Wakil bangsa Melayu pada panitia tersebut adalah Incek Mashohor bin Kulop Endut dari Perak. Dulu ia pernah menolong Dr. W. G. Shellabear dalam membuat sebuah kamus bahasa Melayu. Ia baru dibaptiskan sebagai orang Kristen pada tahun 1924; jadi, ia dapat menolong kawan-kawan sekerjanya agar mengindari istilah-istilah yang sulit bagi orang yang tidak dibesarkan di lingkungan gereja.
Pada tahun 1936 kedudukan Mashohor dalam team penterjemah itu diganti oleh Abdul Ghani bin Tahir. Mungkin kemahiran pengganti itu dalam pemakaian bahasa Melayu lebih unggul lagi daripada yang dapat dicapai oleh Mashohor dulu.
Wakil bangsa Indonesia dalam proyek terjemahan bersama itu adalah A. W. Keilulu, seorang mahaguru di sebuah sekolah kependidikan di Ambon. Ia dianggap ahli sekali dalam bahasa Indonesia sebagaimana dipakai di daerah Nusa Tenggara.
Pada bulan Mei tahun 1940, Bode sebagai warganegara Jerman dimasukkan ke dalam tahanan. Mula-mula ia ditempatkan di pulau Seribu, kemudian di daerah Aceh. Ia masih rajin bekerja pada terjemahannya, dan sempat menyelesaikan Kitab-kitab Yosua, Hakim-hakim, dan Rut.
Menjelang akhir tahun 1941, tentara Jepang mulai aksinya di daerah Lautan Teduh. Agar terhindar dari bahaya, para tahanan berkebangsaan Jerman itu dikirim ke India. Tetapi pada bulan Januari tahun 1942, dekat pulau Nias, kapal yang mereka tumpangi itu dibom oleh pesawat terbang Jepang. Hanya ada 70 orang Jerman yang selamat ketika kapal tenggelam, dan W. A. Bode tidak termasuk di antaranya.
Doa Bapa Kami dalam terjemahan W.A. Bode dk. (1935, 1938, 1948) berbunyi sebagai berikut:
"Ja Bapa kami jang disoerga,
dipermoeliakanlah kiranya Namamoe.
Datanglah keradjaanmoe.
Djadilah kehendakmoe,
seperti disoerga, demikian djoega diatas boemi.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang setjoekoepnya.
Dan ampoenilah kiranya kepada kami segala kesalahan kami,
seperti kami ini soedah mengampoeni orang
jang berkesalahan kepada kami.
Dan djanganlah membawa kami kepada pentjobaan,
melainkan lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Menuju Terjemahan Baru
Walaupun ada orang-orang dari semenanjung Melayu yang turut mengerjakan terjemahan Bode dkk., namun versi itu tidak umum diterima di sana. Juga, terjemahan tersebut tidak sempat diselesaikan, karena terhambat oleh perang dan maut.
Jadi, pada tahun 1952 mulailah suatu usaha baru lagi untuk menghasilkan sebuah terjemahan yang tepat dan tak ketinggalan zaman. Proyek itu makan waktu yang luar biasa lamanya, karena sering terganggu oleh soal luar dan dalam. Pada permulaannya terjemahan itu diasuh oleh Lembaga Alkitab Belanda, lalu pada tahun 1959 dialihkan kepada Lembaga Alkitab Indonesia.
Banyak orang yang turut menyumbangkan tenaga dan pikiran pada proyek besar itu. Mereka yang bekerja sepenuh waktu (antara lain) adalah sebagai berikut:
Dr. J. L. Swellengrebel, ketua panitia 1952-1959
C.D. Grinjins, 1952-1970
P. S. Naipospos, 1952-1963
Dr. Chr. F. Barth, 1956-1963
Dr. J. L. Ch. Abineno, ketua panitia 1962-1970
Dr. Rd. Soedarno, wakil ketua panitia 1962-1970
Ds. O. E. Ch. Woewoengan, 1962-1970
J. P. Siborutorop, 1963-70
Dr. A. de Kuiper, 1964-70
Sebagaimana dapat diketahui dari bunyi nama-nama mereka, ada orang Eropa dan orang Indonesia yang bekerja sama demi Firman Allah dalam bahasa modern. Di antara anggota-anggota team penterjemah dari Indonesia itu, ada orang Batak, orang Timor, orang Jawa, dan orang Manado.
Dr. Swellengrebel, yang berjasa besar pada masa permulaan proyek itu, lahir di Belanda pada tahun 1909. Mulai tahun 1936 ia melayani di pulau Bali sebagai tenaga ahli Lembaga Alkitab Belanda. Selama tiga tahun ia menjadi tahanan perang. Sejak pulang ke tanah airnya, ia masih tetap memberi sumbangan besar demi Firman Allah di Asia Tenggara: Pada tahun 1974 dan 1978 ia menerbitkan sebuah buku berupa dua jilid yang memuat sejarah terjemahan Alkitab di bumi Indonesia: In Leijdeckers Voetspoor.
Dr. Abineno, yang menggantikan Dr. Swellengrebel sebagai ketua panitia penterjemah, lahir di Timor pada tahun 1918. Ia cukup terkenal sebagai pengarang buku sebanyak hampir 20 buah, kebanyakan tentang penyelidikan Alkitab, theologia, kependetaan, dan hal-hal gerejani lainnya.
Inilah Alkitab yang biasa disebut: "terjemahan baru." (Anehnya, ada terjemahan yang lebih baru lagi daripada "terjemahan baru." Dan tentu saja ada terjemahan yang lebih lama lagi daripada "terjemahan lama"!)
Doa Bapa Kami dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (1971, 1974) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami jang disorga,
dikuduskanlah namaMu,
datanglah KeradjaanMu,
djadilah kehendakMu
dibumi seperti sidorga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami jang secukupnja
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami djuga mengampuni orang jag bersalah kepada kami;
dan djangan membawa kami kedalam pentjobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada jang djahat."
Banyak Macam Alkitab
Tidak semua Kitab Suci adalah terbitan dari suatu lembaga Alkitab. Firman Allah dalam bahasa-bahasa aslinya adalah milik umum. Siapa pun yang sanggup menyalinkannya ke dalam bahasa lain, boleh saja menerbitkan salinannya itu tanpa diganggu gugat.
Justru itulah yang telah dilakukan oleh seorang Amerika bernama Kenneth N. Taylor. Hasil karyanya sesungguhnya lebih baik jangan disifatkan sebagai sendiri, "Parafrasis berarti mengatakan sesuatu dalam kata-kata yang lain daripada yang dipakai oleh pengarangnya, yaitu suatu rumusan kembali dari pikiran pengarang itu, dengan menggunakan kata-kata yang berbeda."
Doa Bapa Kami dalam Firman Allah yang Hidup: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Sehari-hari (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami yang di surga,
kami muliakan nama-Mu yang suci.
Kami mohon kiranya kehendak-Mu terlaksana di bumi ini sama
seperti di surga.
Berilah kami makanan untuk hari ini sebagaimana biasa,
dan ampunkanlah dosa kamu, seperti kami sudah mengampuni
mereka yang bersalah kepada kami.
Janganlah kami dibawa ke dalam cobaan, melainkan lepaskanlah
kami dari si Jahat."
Salah satu kesulitan yang sering dihadapi dalam usaha terjemahan ialah, menemukan seseorang yang pandai, baik dalam bahasa-bahasa asli Alkitab, maupun dalam bahasa setempat. Untuk menolong para Yunani, Lembaga Alkitab Amerika beberapa tahun yang lalu memutuskan untuk membuat suatu terjemahan yang sangat sederhana. Untuk mengetuai proyek tersebut mereka menunjuk Dr. Robert G. Bratcher, seorang sarjana Alkitab yang dulu menjadi utusan Injil Baptis dan putra utusan Injil Baptis di negeri Brasilia.
Tugas Dr. Bratcher ialah, menghasilkan suatu terjemahan yang takkan menjebak seorang penterjemah yang hanya tahu bahasa Inggris dan bahasa setempat saja. Segala sesuatu yang membingungkan harus dihindari.
Di samping para penterjemah, juga orang-orang yang baru belajar bahasa Inggris diharapkan sebagai pembaca terjemahan itu. Rupanya tidak ada banyak orang dari kedua golongan itu (yakni penterjemah, serta pembaca yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris). Jadi, Lembaga Alkitab Amerika hanya membuat rencana untuk mencetak seratus ribu eksemplar. Mungkin jumlah itu kita anggap sebagai oplah besar. Tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah yang biasa untuk cetakan buku penting di negeri Barat, seratus ribu itu agak sedikit.
Perjanjian Baru dalam terjemahan sederhana itu keluar pada tahun 1966. Heran, sebelum akhir tahun itu juga, Lembaga Alkitab Amerika harus mencetak berjuta-juta eksemplar lagi! Jumlah peredaran itu terus naik, sampai dalam tempo sepuluh tahun mencapai 50 juta, suatu rekor dunia sepanjang sejarah penerbitan buku. Pada tahun 1976 keluarlah seluruh Alkitab dalam terjemahan itu, dan terbitan ini pun sangat laris di seluruh dunia. Hanya sembilan bulan setelah penerbitannya, eksemplarnya yang kelima juta dipersembahkan kepada Presiden Jimmy Carter dalam suatu upacara khusus di Gedung Putih.
Mengapa Good News Bible (yang juga disebut Today's English Version) begitu populer? Pertama-tama, karena bahasanya mungkin yang paling jelas dan paling sederhana yang pernah diterbitkan. Judulnya pun menyolok mata pembeli. Banyak gambar kecil yang mirip dengan karikatur, pasti menambah daya tarik dari versi itu. Gambar-gambar tersebut adalah karya seorang seniwati Kristen dari negeri Swis, Nn. Annie Valloton.
Tetapi alasan utama mengapa Good News Bible itu digemari oleh pembeli dan pembaca di Indonesia dan di mana-mana ialah karena isinya tak lain dan tak bukan adalah Firman Allah. Sama seperti dahulu kala dan sepanjang abad, sekali lagi terbukti bahwa tidak ada buku lain yang lebih menarik, atau yang lebih penting untuk dibaca oleh umat manusia.
Doa Bapa Kami dalam Perjanjian Baharu: Berita Baik Untuk Manusia Moden (1976) berbunyi sebagai berikut:
"Ya Bapa kami yang di syurga,
Hendaklah manusia menghormati engkau.
Binalah Pemerintahanmu di bumi.
Hendaklah manusia taat kepadamu
sebagaimana engkau ditaati di syurga.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang seperlunya.
Ampunilah kesalahan kami,
seperti kami mengampuni orang yang bersalah terhadap kami.
Janganlah membiarkan kami digoda Iblis,
tetapi selamatkanlah kami daripada kuasanya."
Versi baru itu laris sekali: Menjelang akhir tahun 1977, cetakan pertama dan kedua, yang berjumlah 75.00 eksemplar, hampir habis. Sudah ada rencana untuk cetakan ketiga yang terdiri dari 200.000 eksemplar dan yang memuat agak banyak ralat dan revisi. (Dengan pertolongan khusus dari LAI, semua kutipan dari Kabar Baik Untuk Masa Kini yang dimuat dalam buku ini ialah dari edisi yang telah diperbaiki itu.)
Sebuah team penterjemah terus mengerjakan Perjanjian Lama dalam versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) itu. Suatu keistimewaannya ialah, team itu terdiri seratus persen dari wanita! Mereka itu adalah Ibu Mia Sigar, seorang istri pendeta di Bandung dan pemimpin kaum Wanita Baptis seAsia;Ibu A. Susilaradeya, seorang pengarang dari Gereja Protestan yang dengan suaminya melayani di Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta; dan Sr. Emmanuella Gunanto W. Th., seorang rohaniwati Katolik yang menjadi ahli publisistik dan pendidikan. Baik terjemahan BIS itu maupun "terjemahan baru" (LAI 1974) diperbolehkan untuk umat Katolik, di samping untuk orang-orang Kristen lainnya.
Doa Bapa Kami dalam Kabar Baik Untuk Masa Kini: Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (1977) berbunyi sebagai berikut:
"Bapa kami di surga :
Engkaulah Allah yang Esa.
Semoga engkau disembah dan dihormati.
Engkaulah Raja kami.
Semoga engkau memerintahkan di bumi
dan kehendakmu ditaati seperti di surga.
Berilah pada hari ini makanan yang kami perlukan.
Ampunilah kami dari kesalahan kami,
seperti kami sudah mengampuni orang
yang bersalah kepada kami.
Janganlah membiarkan kami kehilangan percaya pada waktu kami dicobai
tetapi lepaskanlah kami dari kuasa si Jahat.'
Berabad-abad lamanya, Alkitab merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di seluruh dunia.
Ada tiga alasan yang menjadi penghalang sehingga isi Firman Allah itu umumnya tidak dikenal oleh orang-orang biasa.
Mula-mula, pada zaman dahulu hanya ada satu cara untuk memperbanyak salinan-salinan Alkitab: dengan tulisan tangan. Jadi, salinan-salinan Alkitab itu sangat langka dan sangat mahal harganya.
Juga, kebanyakan pemimpin umat Kristen pada zaman dahulu berpendapat bahwa jika orang-orang biasa diizinkan membaca Alkitab sendiri, pasti akan timbul banyak tafsiran yang salah. Jadi (menurut pikiran mereka), lebih baik jika hak istimewa untuk memiliki Alkitab itu dimonopoli saja oleh para rohaniawan.
Alasan ketiga ialah, kebanyakan Alkitab pada zaman dahulu masih ditulis dalam bahasa-bahasa kuno. Jadi, kebanyakan orang tidak dapat membacanya, pun tidak dapat mengerti isinya jika dibacakan oleh orang lain.
Mulai pada abad yang ke-15 dan ke-16, ketiga alasan yang menjadi penghalang itu berturut-turut dihapus.
Pertama-tama, seni cetak ditemukan oleh orang-orang Barat (walau pada hakikatnya orang-orang Timur sudah lebih dahulu menemukannya!). Buku lengkap yang pertama-tama dicetak ialah: Alkitab. Maka salinan-salinan Alkitab menjadi jauh lebih mudah diperoleh.
Kemudian timbul Reformasi Protestan di benua Eropa. Gerakan pembaharuan gereja itu menekankan bahwa tiap orang bertanggung jawab kepada Allah atas keadaan rohaninya. Jadi, belum cukuplah jika ia mendengar tafsiran Alkitab yang diberikan oleh orang lain; ia harus dapat mempunyai Alkitab sendiri, serta harus dapat mengerti isinya.
Tentu saja, untuk dapat mencapai maksud tadi, Alkitab harus diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang biasa dipakai oleh kebanyakan orang. Dan justru itulah yang berlangsung di seluruh dunia, mulai pada abad yang ke-16.
Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara. Memang sudah ada orang-orang Kristen di sini: Kaum Kristen Nestorian mulai datang ke kepulauan Indonesia pada abad yang ke-12, dan kaum Kristen Katolik mulai datang pada abad yang ke-14. Tetapi Alkitab-Alkitab yang mereka bawa itu tertulis dalam bahasa-bahasa asing, yang sulit dipahami oleh putra-putri Nusantara.
Ada juga halangan khusus di Nusantara yang mencegah orang mempunyai dan membaca Alkitab, yakni: Orang-orang yang tinggal di berbagai-bagai pulau itu berbicara dalam berbagai-bagai bahasa pula. Jika seorang pelaut pergi berlayar di Nusantara, belum tentu ia dapat bercakap-cakap dengan orang-orang di pulau tempat tujuannya.
Namun ada juga bahasa-bahasa yang umumnya dipakai kalau putra-putri Nusantara pergi ke pasar atau berdagang di pelabuhan. Salah satu bahasa perniagaan itu ialah bahasa Portugis; tetapi yang lebih umum lagi ialah, bahasa Melayu (yang sesungguhnya merupakan nenek moyang bahasa Indonesia).
Anehnya, Alkitab mula-mula diterjemahkan ke dalam bahasa Portugis, bukan di negeri Portugis sendiri, melainkan di Nusantara!
Pada pertengahan abad yang ke-17, seorang anak laki-laki kecil dibawa dari Portugis ke kota Malaka, di semenanjung Melayu. Ketika ia masih berumur belasan tahun, bocah itu mulai percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya. Dan pada umur yang masih sangat muda, mulailah dia menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa ibunya. Kemudian, tatkala ia pindah dari Malaka ke Jakarta, ia sempat menyelesaikan terjemahannya itu. Ia juga menerjemahkan sebagian besar dari Kitab Perjanjian Lama.
Tetapi lambat laun penjajah bangsa Portugis itu diusir dari seluruh Nusantara oleh penjajah bangsa Belanda. Karena itu makin lama makin sedikit orang yang menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa perdagangan antar pulau. Dan Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di kepalauan Indonesia.
Anehnya, orang-orang yang mula-mula insaf bahwa Firman Allah seharusnya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu bukannya para pendeta dan penginjil, melainkan para pelaut dan pedagang. Pada permulaan abad yang ke-17, seorang pelaut Belanda bernama Houtman ditangkap dan dipenjarakan oleh suku Aceh yang pada waktu itu terkenal cukup garang. Selama ditahan di Sumatera Utara, orang Belanda itu sempat belajar bahasa Melayu. Setelah dibebaskan, mulai pada tahun 1605 ia menerbitkan beberapa tulisan Kristen yangg sudah diterjemahkannya ke dalam bahasa Melayu.
Sementara itu, seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl berlayar dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1600. Ia menyadari bahwa Alkitab perlu dibaca oleh putra-putri Nusantara. Bahkan ia membujuk rekan-rekan sekerjanya sampai mereka rela membayar semua ongkos penerbitan untuk proyek terjemahannya itu. Pada tahun 1612 Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Melayu. Tetapi baru tujuh belas tahun kemudian, hasil karyanya itu dicetak.
Dalam bahasa Melayu terjemahan Ruyl, Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) berbunyi sebagai berikut:
"Bappa kita, jang adda de surga:
    Namma mou jadi bersakti.
Radjat-mu mendatang
kandhatimu menjadi
    de bumi seperti de surga.
Roti kita derri sa hari-hari membrikan kita sa hari inila.
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,
    seperti kita ber-ampun
    akan siapa ber-sala kepada kita.
D'jang-an hentar kita kepada tjobahan,
    tetapi lepasken kita dari jang d'jakat."
Hanya sebagian saja dari Alkitab yang sempat diterjemahkan oleh A. C. Ruyl, pedagang Belanda tadi. Lagi pula, bahasa Melayu yang dipakainya itu sangat jelek. Misalnya, ia belum mengerti perbedaan antara "kita" dengan "kami."
Kemudian, pada pertengahan abad yang ke-17, ada seorang pendeta Belanda bernama Daniel Brouwerius yang mulai insaf bahwa Alkitab mmasih merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara. Ia pindah ke kepulauan Indonesia dan berhasil menerjemahkan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu.
Dalam terjemahan Daniel Brouwerius, yang mula-mula diterbitkan pada tahun 1668, Doa Bapa Kami berbunyi sebagai berikut:
"Bappa cami, jang adda de Surga,
    Namma-mou jaddi bersacti.
Radjat-mou datang.
Candati-mou jaddi
    bagitou de boumi bagaimana de surga.
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami.
Lagi ampon doossa cami,
    bagaimana cami ampon
    capada orang jang salla pada cami.
Lagi jangan antarrken cami de dalam tsjobahan
    hanja lepasken cami derri jang djahat."
Memang Pdt. Brouwerius sudah dapat membedakan "kita" dan "kami." Namun masih banyak kesalahan dalam Perjanjian Baru bahasa Melayu yang diterjemahkannya. Apalagi, seluruh Perjanjian Lama masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan orang di Nusantara.
Tujuh tahun setelah Kitab Perjanjian Baru terjemahan Brouwerius itu diterbitkan, seorang pendeta tentara tiba di Jawa Timur. Siapa namanya? Dr. Melchior Leydekker. Di samping menjadi seorang pendeta, ia juga seorang dokter. Pada tahun 1678, Dr. Leydekker pindah lagi dari jawa Timur ke Jakarta, dan tetap tinggal di ibu kota selama sisa umurnya.
Dr. Leydekker menjadi pandai sekali berkhotbah dalam bahasa Melayu. Jadi, pada tahun 1691 dialah yang ditunjuk untuk mulai menyiapkan suatu terjemahan seluruh Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami di seluruh Nusantara.
Selama sepuluh tahun Dr. Leydekker bekerja dengan tekun. Terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dihasilkannya. Lalu ia terus mulai mengalihbahasakan Kitab Perjanjian Baru. Sayang, ia tidak sempat menyelesaikan tugas yang mulia itu: Ia meninggal pada tahun 1701, setelah mengerjakan terjemahannya sampai dengan Efesus 6:6.
Kutipan Doa Bapa Kami dari terjemahan bahasa Melayu Dr. Melchior Leydekker di bawah ini telah disusun kembali menurut ejaan yang disempurnakan dan menurut tanda-tanda baca yang modern. Dengan demikian lebih jelaslah persamaannya dengan ayat-ayat yang sama itu dalam terjemahan biasa bahasa Indonesia:
"Bapa kami yang di sorga,
    namaMu dipersucilah kiranya.
KerajaanMu datanglah.
KehendakMu jadilah,
    seperti di dalam sorga, demikianlah di atas bumi.
Roti kami sehari berilah akan kami pada hari ini.
Dan ampunilah pada kami segala salah kami,
    seperti lagi kami ini mengampuni
    pada orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami kepada percobaan,
    hanya lepaskanlah kami daripada yang jahat."
Salah seorang rekan Dr. Leydekker almarhum ditunjuk untuk menyelesaikan tugasnya, sehingga pada tahun 1701 itu juga sudah ada Firman Allah yang lengkap dalam bahasa Melayu. Namun Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk putra-putri Nusantara. Mengapa sampai terjadi demikian?
Pada masa Melchior Leydekker masih menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan kependetaan di Belanda, lahirlah di negeri itu seorang anak laki-laki dalam keluarga seorang pembantu kepala sekolah. Anak laki-laki itu lahir pada tahun 1965 dan diberi nama Francois Valentyn. Rupa-rupanya ia seorang pemuda yang pandai, karena ia baru mencapai umur 20 tahun ketika ia diizinkan meninggalkan kuliah teologinya serta pergi ke Maluku sebagai seorang pendeta. Rupa-rupanya ia juga cepat mahir dalam bahasa Melayu: Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa setempat setelah belajar hanya tiga bulan lamanya.
Pada suatu hari, kebetulan seorang pendeta tua datang ke Ambon dan menginap di tempat tinggal pendeta yang masih muda tadi. Sang pendeta tua membawa serta sebuah naskah besar. "Warisan," katanya. "Naskah ini dulu ditulis oleh seorang pendeta yang meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kemudian sang janda memberikan naskah ini kepadaku.
Secara tidak terduga pendeta tua itu meninggal pada waktu ia bertemu di rumah pastori di Ambon. Maka Naskah kuno itu jatuh ke dalam tangan Pdt. Francois Valentyn. Ketika diperiksa, ternyata tulisan tangan itu adalah terjemahan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu!
Pdt. Valentyn adalah seorang yang rajin. Ia rajin menyelidiki bahasa dan kebudayaan orang Maluku. Dan ia pun rajin mencari teman-teman baru di tempat pelayanannya. Salah seorang teman barunya itu adalah seorang janda kaya. Setelah menikah dengan janda itu, Pdt. Valentyn kembali ke tanah airnya pada tahun 1695. Naskah kuno itu pun dibawa ke Belanda.
Kemudian, pada permulaan abad yang ke-18 diumumkan bahwa Dr. Melchior Leydekker almarhum (dengan bantuan salah seorang rekannya) telah berhasil menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Melayu.
Mungkinkah Pdt. Francois Valentyn menjadi iri hati? Mungkinkah ia berkeinginan supaya dia saja yang dihormati (dan bukan orang-orang yang sudah meninggal) sebagai penerjemah yang pertama-tama menghasilkan seluruh Firman Allah dalam bahasa Nusantara?
Bagaimanapun juga, Pdt. Valentyn mulai mempromosikan dirinya sebagai penerjemah naskah kuno seluruh Alkitab itu (yang hanya kebetulan saja ada di dalam tangannya). Katanya, terjemahan itu juga lebih baik, jauh lebih modern, bahkan jauh lebuh mudah dipahami terjemahan Dr. Leydekker.
Tentu saja umat Kristen menjadi bingung. Baik di Belanda maupun kepulauan Indonesia, ada orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Valentyn, tetapi ada juga orang-orang yang lebih setuju dengan terjemahan Leydekker. Akibatnya, kedua terjemahan itu tidak jadi diterbitkan. Dan sekali lagi, selama berpuluh-puluh tahun, Alkitab masih tetap merupakan sebuah kitab yang bungkam untuk kebanyakan putra-putri Nusantara.
Akhirnya duduk perkaranya terungkap dengan jelas. "Terjemahan Valentyn" itu diselidiki dan dinyatakan sebagai hasil karya orang lain. Lagi pula, terjemahan itu dinilai sangat jelek.
Akan tetapi sementara perselisihan pendapat itu masih berlangsung, sudah lewat juga dua puluh tahun lebih. Ada orang-orang yang merasa bahwa terjemahan Leydekker tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Maka pada tahun 1723 sebuah panitia ditunjuk untuk menyunting kembali naskah terjemahannya itu. Selama enam tahun mereka mengerjakan edisinya yang baru.
Menjelang tahun 1729, naskah terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali disalin dengan tulisan tangan: sekali dalam huruf Latin, dan sekali lagi dalam huruf Arab. Kedua naskah itu masing-masing dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa walau satu naskah jadi hilang di dasar laut, namun naskah yang satunya lagi itu masih akan tiba dengan selamat. Salah seorang penyuntingnya juga berlayar ke tanah airnya, untuk mengawasi proyek penerbitan yang besar itu.
Kitab Perjanjian Baru terjemahan Leydekker keluar pada tahun 1731. Lalu Alkitab lengkap terjemahan Leydekker diterbitkan pada tahun 1733. Maka akhirnya juga Firman Allah tidak lagi bungkam dalam bahasa Nusantara!

Keluaran 6 : 6 = (6-5) Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.